TVRI Kenapa Ditelantarkan?

Siapa pun tak akan mem¬bantah, jika dulunya pada Orde Baru peranan TVRI sa¬ngat vital dan dominan buat pemerintahan republik ini dalam mencerdaskan ba¬ngsa. Rakyat di seluruh pen¬juru Tanah Air, hanya tahu televisi yang disebut TVRI.
Lantas bagaimana nasib TVRI sekarang ini? Siapa pun tidak akan membantah kalau televisi pertama orbit di negeri ini sekarang diter¬lantarkan. Mem¬prihatinkan memang. Padahal peranan media massa seperti televisi, sampai detik ini sangat diperlukan masyarakat.
Hal ini dapat dipahami karena Indonesia merupakan wilayah kepulauan hingga mencapai lebih kurang 13.750 pulau-pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Minus Sipadan dan Ligitan. Inilah yang disebut Arki¬pelago Nusantara.
Jika dilihat dari kondisi dan letak geografis serta sarana dan prasarana yang ada di Indonesia, maka alat untuk penyampaian informasi yang paling tepat, cepat dan mu¬dah adalah media elek¬tronik seperti internet, radio dan televisi. Itu telah terbukti dengan keberhasilan Safari Ramadhan Partai Golkar dipimpin H.Harmoko pada masa Orde Baru dan kam¬panye SBY  pada Pilpres 2004.
Seiring dengan perkem¬bangan media elektronik yang berkembang pesat bela¬kangan ini, dapat kita lihat dari banyaknya penambahan media elektronik seperti website, radio dan televisi baik kaliber lokal maupun nasional. Dan tidak sedikit pula perusahaan media elektronik di daerah (kabu¬paten/propinsi) dibeli oleh pihak raksasa elektronik dari Jakarta.
Salah satu contoh yang dapat kita lihat adalah Deli TV yang merupakan perusa¬haan televisi di Medan ditake over oleh PT MNC Jakarta.
Apakah tujuan di balik pembelian Deli TV tersebut? Apakah media televisi lokal ke depan merupakan anca¬man bagi pertelevisian nasi¬onal, seperti halnya di RRC dan Taiwan?

Apa Kabar Dengan TVRI
TVRI merupakan televisi nasional yang dahulu kita banggakan, tapi kini apa kabar TVRI?
Kita semua mengetahui bahwa dulunya sarana dan prasarana TVRI sudah sangat memadai sebelumnya, sam¬pai pernah disewa oleh perusahaan televisi swasta yaitu TPI. Lagi pula kita mengetahui bahwa biaya operasional TVRI ditang¬gung oleh pemerintah. Na¬ma¬nya saja BUMN, kalau rugi toh pemerintah juga yang menanggulangi.
Sekilas kita lihat ke bela¬kang (In Hind Sight) tentang kegagalan dan kesuksesan TVRI. Di era 1979 s/d 1980-an di mana ada siaran niaga (iklan-iklan komersial) pada saat itu kegiatan siaran TVRI sangat baik dan menarik. Mungkin karena TVRI adalah satu-satunya televisi yang ada di Indonesia pada saat itu, sehingga kesalahan sedikitpun semua orang segera mengetahuinya.
Seperti kritikan ahli bahasa Yus Badudu, tentang pengucapan kata “kan” dan “ken” yang sering salah diucapkan para pejabat saat itu. Namun malang tak dapat dihindari, Yus Badudu pun tidak dapat mengisi acara Mimbar Bahasa Indonesia lagi. Jadi sepertinya TVRI pada saat itu, hanya boleh menyebarkan berita yang baik saja, yang bernuasa kritik dilarang.
Nasib TVRI ke depan
Dilihat dari kualitas yang sekarang ini, sudah banyak pemirsa yang meninggalkan TVRI. Apalagi acara TVRI lokal. Apa gerangan? Mau nonton aja susah, mungkin dikarenakan frekuensinya tidak sesuai. Sehingga saat kita mau menonton TVRI daerah, yang timbul ternyata TVRI nasional.
Mengenai SDM TVRI, sepe¬ngetahuan penulis cukup profesional. Buktinya, banyak SDM TVRI setelah keluar dipakai menjadi staff ahli di televisi swasta nasi¬onal., Bahkan ada yang men¬duduki jabatan direksi.
Saat ini kita sangat iba, terutama mengenai perkem¬bangan TVRI ke depan, se¬bab selain teknologi tidak memadai (out of date) SDM-nya pun tidak ada penam¬bahan (setelah+/-14 tahun).
Menelaah permasalahan TVRI tersebut, timbullah pertanyaan sebagai berikut :
1.Bagaimana estafet kepe¬mim¬pinan TVRI ke depan.
2.Apa maksud manajemen TVRI dengan tidak adanya perekrutan karyawan baru.
3.Bagaimana reaksi TVRI dalam menghadapi persai¬ngan TV swasta nasional yang sudah jauh lebih populer dibanding TVRI.
4. Bagaimana nasib Stasiun TVRI lokal yang ada di setiap propinsi.
5. Sampai kapan TVRI akan bertahan hidup dengan dana sokongan peme¬rintah.
Analisis kekuatan dan kele¬mahan
Seharusnya para top manajemen TVRI pusat (board of director/BOD) sece¬patnya mengadakan evaluasi tentang kinerja masing-masing departemen, mulai dari lower management s/d top management dan nanti¬nya akan kelihatan permasa¬lahan-permasalahan yang ada di tubuh TVRI. Bila perlu dapat menggunakan jasa konsultan manajemen yang ada di Indonesia.
Penulis berpendapat bah¬wa sudah saatnya para top management TVRI pusat mengadakan re-enggi¬nee¬ring, restructuring, repostio¬ning dan empowering dari SDM yang ada, mulai dari top management hingga lower management.
Solusi untuk TVRI
Dengan mengkaji perkem¬bangan TV lokal di negara lain seperti RRC, Jepang, Taiwan dan Korea sangat baik maka ada usulan :
1. Sudah seharusnya TVRI lokal dapat berdiri sendiri dan menjadi aset peme¬rintah daerah (dihibahkan) sebagai media untuk mempromosikan produk-produk daerah dan se¬bagainya.
2. Dengan perubahan pada poin 1 di atas, diharapkan TVRI dapat lebih efisien dan ramping dalam ma¬najemennya.
3. Apabila pemerintah dae¬rah tidak mau, maka TVRI daerah dapat dijual pada TV swasta nasional. Hal ter¬sebut lebih baik dari¬pada dikelola TVRI pusat secara tidak maksimal.
4. Setelah perampingan, ma¬ka penghematan biaya SDM dan operasional tersebut dapat digunakan untuk membeli peralatan yang lebih modern (up to date) dan penambahan biaya produksi.
Penulis memberikan saran dan kritikan tersebut tentu saja sebagai kecintaan terhadap TVRI, tanpa ada maksud dan tujuan tertentu. Semoga TVRI tetap menjadi “The Founder of Television di Indonesia”.
* Penulis adalah Ketua Umum Sahabat Center Sumatera Utara dan Pendiri Nasional Pos.

Leave a Reply