Soal Pelayanan Rumah Sakit, Kita Kok Kalah?

Rumah sakit adalah sangat vital dalam kehidupan. Ma¬¬kanya membicarakan rumah sakit sangat menarik buat publik. Dan, soal rumah sakit menyangkut berbagai aspek¬nya, selalu menjadi topik pembicaraan. Setidaknya yang acap kali dibicarakan me¬nyangkut soal pelayanan¬¬nya. Melalui media massa, Menkes RI mengatakan bi¬¬aya pengobatan keluar negeri dari masyarakat Indonesia bisa menghabiskan 2,5 triliun rupiah selama setahun. Ini wajar mencengangkan kita.
Menurut asumsi penulis, angka tersebut masih terlalu rendah, dan mungkin akan mencapai di atas 10 trilyun rupiah ke atas. Dasar pemikiran menggunakan asumsi sebagai berikut:
Contoh : propinsi   Sumatera Utara. Pada setiap harinya ada 5 (lima) penerbangan ke Malaysia (Kuala Lumpur dan Penang). Penumpangnya selalu penuh. Kita asumsikan saja setiap flight 100 orang yang berobat, dan setiap orang menghabiskan rata RM 1.000 (1 RM =  Rp. 2.800) dan  setahun kita anggap 365 hari.
Kalau kita pedomani asumsi tersebut, maka besarnya biaya berobat hanya saja ke Malyasia akan menghabiskan Rp. 511 miliar. Belum lagi ke Singapura yang ada sekitar 3 sampai 4 flight per hari  dan negara lain seperti RRC dan beberapa negara lainnya. Angka sebesar tersebut hanya dari masyarakat Sumut, belum lagi masyarakat dari 32 propinsi  lainnya di Indonesia.
Yang menjadi pertanyaan adalah, kalaulah pelayanan dan fasilitas rumah sakit kita baik, kenapa masyarakat di Indonesia masih mau berobat ke luar negeri ?
Menurut penulis, hendaknya pemerintah sebagai regulator dan stabilisator, sudah saatnya harus mengevaluasi kinerja rumah sakit yang ada, terutama terhadap rumah sakit pemerintah. Karena untuk rumah sakit pemerintah, diharapkan menjadi contoh  bagi rumah sakit swasta lainnya  mengenai standard pelayanan dan fasilitas yang ada.
Hendaknya ketentuan tentang pembagian type dari rumah sakit juga harus dijelaskan kepada masyarakat. Jangan  mas¬yarakat hanya mengetahui adanya pembagian seperti Pus¬kesmas, klinik dan rumah sakit saja. Namun mereka tidak di¬¬¬beritahukan tentang type dan kualitas rumah sakit. Pe¬merintah harus membuat rating rumah sakit di Indonesia.
Jika anjuran Menkes RI tersebut secara institusi, hendaknya dapat dilaksanakan, himbauan tersebut untuk kalangan birokrat ataupun pejabat pemerintah terlebih dahulu. Kita harus contoh mantan Presiden RI H.M.Soeharto, sampai akhir hayatnya masih tetap bertahan di Rumah Sakit Pertamina Jakarta. Jangan seperti Abdul Rahman Saleh dan Adnan Buyung Nasution. Mau check up saja harus ke Singapura (sesuai pemberitaan di media massa).
Menurut pemantauan penulis alasan-alasan orang berobat keluar negeri sbb :
1.    Dokter di luar negeri lebih teliti.
2.    Pelayanan lebih baik dan professional.
3.    Peralatan lebih canggih (up to date).
4.    Ada kalanya perbandingan biaya lebih murah dari di dalam negeri.
5.    Gencarnya melakukan promosi misalnya penambahan pelayanan  antar jemputan dari airport, dengan menyisihkan sebagian dari keuntungan.
6.    Dokternya sering dikirim ke luar negeri untuk perdalam ilmu kedokteran dan mencoba peralatan baru.
Dilihat dari ke 6 (enam) permasalahan tersebut tersebut, hendaknya bukan suatu hal yang sulit untuk kita perbaiki. Sepertinya issu yang beredar di kalangan birokrasi “kalau dapat dipersulit, kenapa harus dipermudah”
Seperti contoh, ada dokter yang mau ambil spesialis, harus mengeluarkan dana ratusan juta rupiah. Belum lagi menjadi bulan-bulanan dokter pembimbing/penguji nantinya.
Dengan melihat permasalahan tersebut, hal-hal yang harus diperbaiki mengenai rumah sakit di  Indonesia, apabila tidak mau ketinggalan dengan rumah sakit di luar negeri . Permasalahan yang harus dicari solusinya sbb :
1.     Memperbaiki lembaga pendidikan kedokteran di perguruan tinggi.
2.    Jangan mempersulit  dokter lulusan luar negeri, termasuk lulusan dokter spesialis. Dalam hal ini jangan persulit ujian kompetensi para dokter lulusan luar negeri.
3.    Obat resep dokter jangan dikenakan pajak.
4.    Harus ada standar lisensi keahlian yang jelas, ke negara mana kita bekerjasama tentang ilmu kedokteran. Misalkan Singapura bekerjasama dengan Inggeris.
5.    Selalu mengirim dokter ke luar negeri untuk memper¬¬dalam ilmu dengan biaya ditanggung pemerintah.
6.    Janganlah lantaran orangtuanya dokter maka anaknya dipaksakan masuk fakultas kedokteran dan harus menjadi dokter.
Mengkaji permasalahan rumah sakit yang selalu jadi perbincangan ini kiranya, pemerintahan perlu mencari solusi yang bertujuan agar rakyat di negeri ini tak perlu harus pergi berobat ke luar negeri. Kita tidak mau lagi mendengar, soal pelayanan di rumah sakit kita kok kalah? Mudah-mudahan dengan pendapat dan saran penulis dapat memperbaiki citra rumah sakit khususnya di Sumatera Utara dan umumnya di Indonesia.

Leave a Reply