Rumahnya Rumah Rakyat Sampai Dini Hari

Seorang satpam bergegas menghampiri lelaki yang mobilnya baru saja parkir di Merdeka Walk. Chafizam (35 tahun), sang Satpam, langsung mengulurkan tangan. “Apa kabar,” sapanya. Brilian Moktar, lelaki yang disalami segera menepuk-nepuk punggung si Satpam. “Aman-aman saja kan situasi?” tanya Brilian. Chafizam mengangguk-angguk. Lalu mereka terlibat obrolan ringan.

Adegan kecil itu telah menjadi fragmen kehidupan sehari-hari Brilian. Ia dekat dengan siapa saja, apalagi wong cilik. ”Kebahagiaanku adalah ketika bisa menjalin persahabatan dengan banyak orang,” ujar Brilian Moktar, Ketua Sahabat Center Sumut. Lelaki kelahiran 30 Maret 1966 tersebut tipe orang yang cepat akrab. Berbincang-bincang dengannya, siap-siaplah terpotong karena banyaknya tegur sapa dari orang lain.

Dari bibirnya kerap meluncur kata “amithofo”, “assalamualaikum”, atau “salam sejahtera” ketika berkomunikasi via handphone. Tak ada perasaan risih atau canggung. ‘Memberi salam untuk kebaikan itu diajarkan oleh setiap agama,” jelasnya.

Brilian mudah diterima berbagai kalangan. Persis seperti nama organisasi sosial yang digagas bersama dr Sofyan Tan, Johan Tjongiran dan beberapa aktivis masyarakat Tionghoa Medan: Sahabat Center Sumut, yang kerap melakukan kegiatan sosial.

Sebut misalnya kerja sama pengobatan gratis oleh klinik pengobatan yang didirikan Boddhicitta Medan, dan Brilian sebagai Sekjen Parsamuan Boddhicitta Mandala Indonesia (PBMI). Pemberian beasiswa untuk anak-anak tidak mampu. Pengiriman sejumlah pelajar berprestasi ke luar negri untuk menempuh program S2. Sampai kegiatan pembagian sembako untuk warga miskin. Bersama Parlindungan Purba, Anggota DPD RI, mereka memberi bantuan kursi roda untuk sejumlah penyandang cacat.

Brilian Moktar juga penyuka dan pembina olahraga. Bola basket, sepak bola dan anggar adalah olahraga yang Brilian intens terlibat. Gubernur Sumut Syamsul Arifin SE memberi penghargaan kepadanya sebagai “Tokoh Olahraga Tahun 2008.” PERBASI Sumut mengapresiasinya sebagai “Pembina Teraktif Tahun 2008”. Sebuah lembaga pendidikan swasta, IT & B Medan, memberinya penghargaan “Pengusaha Peduli Pendidikan Tahun 2008”. Gubernur Sumut, Rudolf Pardede, memberinya gelar “Tokoh Peduli Pemuda” pada 2006.

Bersuara Lantang
Brilian Moktar adalah figur bersuara lantang jika menyaksikan ketidakadilan. Di kalangan wartawan, Brilian Moktar ibarat aliran sungai yang tak pernah kering. Terkadang seperti menabrak batu karang. Pada tahun 2007, bersama beberapa aktivis lain yang tergabung dalam Tim Pencari Keadilan Pajak Kuburan (TPKPK), ia mengecam pemberlakuan Perda Pajak Kuburan bagi orang Tionghoa yang dimakamkan di Deli Serdang.

“Masa orang mati juga masih dikenakan pajak?” protenya. Ia vokal memperjuangkan Vihara Ma Cho Po di Medan Labuhan, justru ketika wakil rakyat menuntut agar kasusnya distanvaskan. Pada tahun 2004, ia menyerukan masyarakat untuk menolak pemberlakuan perda tarif parkir sebesar Rp 10.000 untuk mobil angkutan barang di sentra-sentra dagang Kota Medan. Pemko Medan juga dinilai hanya mau mengisi pundi-pundi PAD (Pendapat Asli Daerah) tanpa mau bekerja keras.

“Tarif dipatok Rp 10.000, tapi tempat parkir tidak disediakan, apakah ini adil?’ ujar Brilian. Ketika muncul krisis listrik pada Juli–Agustus 2008, ia kecam kebijakan pemberlakuan perda genzet. “Banyak pedagang pakai genzet karena PLN tak bisa memenuhi kebutuhan listrik, kenapa pedagang malah harus diberi beban pungutan lagi?” ungkapnya. Ia juga melontarkan kritik seputar pembangunan di kota Medan yang hanya berpusat di kota, dan abai untuk daerah Medan Utara dan Selatan.

Medan Utara dan Selatan
Untuk mengembangkan Medan Utara, misalnya Belawan, ia sudah lama mengusulkan agar pusat pemerintahan dipindah ke wilayah baru. Dengan membuka kota baru, Medan akan berkembang pesat. Ia setuju dengan gagasan Walikota Bachtiar Djaffar untuk membangun jalan disepanjang kiri-kanan Sungai Deli. Titik startnya dimulai dari Jalan Guru Patimpus. Tapi sayang rintisan Bachtiar Djaffar itu tidak diteruskan penggantinya.

Soal strategi mengentaskan kemiskinan, ia punya usul menarik. “Pemerintah mestinya mengkoordinasi organisasi-organisasi sosial yang sering melakukan aksi pembagian sembako”, ujarnya. Ia mencatat di Medan ada tidak kurang 20 organisasi sosial. Jika aksi pembagian sembako dilakukan secara bergilir, maka warga yang miskin secara permanen, dapat menerima jatah pembagian sembako per bulan. Bukan seperti sekarang, dimana satu warga bisa menerima 4 – 5 kali paket sembako.

Brilian Moktar lantang melancarkan kritik ketika simbol dan rupang Buddha dijadikan objek sebuah bisnis di Jakarta. Ia merasa ada penistaan terhadap keyakinan ketika simbol religius dijadikan objek untuk sesuatu di luar syiar keagamaan. Ia tidak menginginkan hal seperti itu terjadi pada umat Islam, Kristen, Hindu dan Konghucu. Kritik-kritiknya yang tajam, kerap “menyilet” pihak yang disentil. Namun ia tidak merasa takut karena apa yang dilakukan untuk membela kebenaran.

“Saya tidak melakukan penzaliman terhadap orang lain, yang saya lakukan adalah untuk meluruskan hal-hal yang tidak benar,” tandasnya. Soalnya sikapnya yang suka blak-blakkan, Bendahara Umum Alumni Fakultas Ekonomi (IAFEN) Universitas HKBP Nommensen ini mengaku bahwa hal itu sudah merupakan pembawaannya sejak kecil.
Tak takut menyinggung perasan orang lain? “Apa yang ada di hati, itulah yang harus diungkapkan”,tandasnya.

Caleg PDI Perjuangan
Pada Pemilu 2009, Brilian Moktar memutuskan terjun ke pentas politik sebagai calon anggota legislatif tingkat Sumut dari PDI Perjuangan. Daerah Pemilihannya adalah Kota Medan. “Saya sudah berkali-kali memilih teman-teman dari suku Padang, Jawa, Batak, Nias dan yang lain, sekarang giliran saya yang harus mereka pilih,” ujarnya sembari terbahak. Penganut vegetarian ini mnganggap anggota dewan adalah ajang pengabdian kepada rakyat, bangsa dan negara Indonesia.

Ada yang unik dri pria ini. Rumahnya terbuka sampai pukul 03.00 dini hari, mirip rumah wakil rakyat. Ketika banyak warga Medan lelap dipeluk mimpi, Brilian masih asyik mendiskusikan berbagai masalah dengan orang-orang yang datang untuk berkonsultasi.
Jika ia gol menjadi anggota DPRD, sebenarnya hanya hendak membangun rumah rakyat yang kedua. “Rumah rakyat yang resmi,” ujarnya. “Kalaupun rakyat memilih saya, rumah saya tetap terbuka 24 jam,” katanya, buru-buru. Setuju.Brilian Moktar SE, saat memberikan bantuan kepada fakir miskin beberapa waktu lalu.

One Response to “Rumahnya Rumah Rakyat Sampai Dini Hari”

  1. ycecesijiwaz…

    Darius Mccrary And Aids

Leave a Reply