Parlindungan Purba dan Veronica
Siapa tak pusing jika Hand Phone diam membisu di genggaman. Cuma mesin yang menjawab. Itulah yang merisaukan Anggota DPD RI Parlindungan Purba, SH, MM. Wajar, bila dia geram terhadap Telkomsel. Soalnya, laporan keluhan dari warga Sumut yang selalu hadir di ponselnya tak bisa diakses.
Anggota DPD RI yang rajin turun ke pelosok ini berang bukan main. Dia pun segera memprotes Telkomsel. Itu tidak berita bohong, Bung! Hal ini terungkap dan meluncur dari bibir seorang wakil rakyat Sumut di forum nasional. Peristiwa bermula, saat sekelompok wartawan berkumpul, ingin mengadakan pertemuan dengan beliau, menunggu di Lantai I gedung DPP Apindo Sumut, di kawasan Jalan Sei Deli Medan, Jumat (29/2) sekitar pukul 15.30 WIB.
Begitu melihat para wartawan menunggu, Parlindungan bergegas menghampiri. Namanya juga jurnalis. Langsung menanyai Ketua Umum Apindo Sumut yang anggota DPD RI itu. Menyangkut beberapa hal. Termasuk, permasalahan Telkomsel yang dalam beberapa hari belakangan ini terjadi gangguan. Imbasnya, beliau sangat sulit dihubungi warga Sumut. Terutama, untuk menyampaikan keluhan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) Kota Medan.
Parlindungan bukan antipati kepada Telkomsel. Tapi, wajar saja dia kecewa berat. Soalnya, sampai ada warga yang mengirim SMS kepada beliau melalui HP. Dituliskan, sejak terbit berita di Harian Kompas pada 25 Februari 2008, sulit dihubungi. Begitu pula para wartawan yang sudah menunggunya beberapa jam di kantor Apindo Sumut. Tak bisa komunikasi dengan Parlindungan.
Masalah gangguan jaringan Telkomsel ini sungguh merupakan suatu persoalan bagi pelanggan. Hal tersebut dibenarkan oleh Parlindungan sambil menunjukkan tiga HP yang baru dibelinya.
Sukarnya berkomunikasi itu, juga dialami beberapa wartawan pengguna jasa Telkomsel. Akibat rusaknya jaringan Telkomsel tersebut, pelanggan kecewa dan dirugikan. Di mana, perusahaan Telkomsel tidak ada pemberitahuan melalui SMS maupun mass media lainnya.
Melalui forum DPD RI, Parlindungan akan memanggil Presiden Direktur Telkomsel Jakarta, untuk memberikan keterangan menyangkut masalah tersebut. Serta, meminta managemen Telkomsel menaruh pertian terhadap protes sebagai berikut :
1. Untuk sementara, menagemen Telkomsel tidak melakukan pemasaran kartu baru sebelum permasalahan ini selesaikan.
2. Membebaskan biaya abonemen bagi pelanggan Telkomsel pasca bayar.
3. Mempertanyakan achievement award yang diterima pihak Telkomsel.
4. Meminta managemen menjelaskan melalui media massa.
Hal tersebut, juga dikatakan Kadispora Kota Medan Drs Khairil Anwar. Dia sangat kecewa dengan pelayanan telkomsel akhir-akhir. Selaku Kadis, banyak staff dan institusi lain yang menghubungi dirinya. Tapi, tidak dapat berkomunikasi. “Banyak penerima SMS marah. jawabannya salah sambung. Jaringan sibuk. Panggilan gagal dan Veronika”. keluh Khairil.
Ada informasi, jaringan optik di Merak Bakauhuni putus. Managemen Telkomsel harus bertanggungjawab atas kejadian ini. Apakah hal ini ada hubungannya dengan perang tarif ? Sebagai contoh, Simpati Rp 0.5 perdetik, XL 0.1 perdetik, Satelindo 1 menit pertama gratis dan Fleksi Rp 49 permenit.
Sumpah serapah juga datang dari Kenny, salah seorang pengusaha HP di Millenium Plaza Lantai I Medan. Dia mengaku, semua disinyalemen karena imbas perang tarif. “Yang murah pasti diserbu konsumen. Sehingga, jaringannya tidak dapat dipenuhi,” katanya.
Sesuai hasil penjualan kartu di kiosnya, penjualan kartu GSM menduduki ranking pertama adalah Telkomsel. Menyusul XL. Sedangkan untuk CDMA, Fleksi pada urutan pertama dan star one pada posisi kedua.
Adakah peristiwa ini menjadi perhatian pemerintah melalui instansi terkait dan semua operator telekomunikasi di wilayah Indonesia?
“Hal ini harus menjadi PR bagi yang berkompeten. Sebab, Veronica bukanlah gadis cantik, tetapi “sirene” menjengkelkan,” kata Kadispora Kota Medan Khairil Anwar.
Filed under: Ekonomi

betul bang, memang telkomsel itu maunya byk untung, perlu diberi pelajaran agar jgn merugikan pelanggan. atau nanti pelanggan akan ramai2 exodus ke operator lain, baru tau rasa dia.
maju terus bang parlin.