Brilian Moktar, SE: Anggota DPR Harus Berani, Cerdas dan Komunikatif

Di berbagai bidang kehidupan, rakyat butuh keteladanan. Tidak terkecuali di bidang politik. Namun bukan hal gampang menemukan keteladanan dari seorang politikus di negeri ini. Jika tidak mau dibilang langka.
Di tengah rakyat bahkan muncul rasa sinis, karena ulah oknum politikus yang dinilai hanya memikirkan kepentingan diri dan kelompok mereka.
Sementara, rakyat yang mereka wakili hanya dijadikan objek politik menjelang masa-masa pemilu.
Sesudah pemilu, sang politikus yang  terpilih menjadi anggota legislatif malah meninggalkan rakyat begitu saja.
Rakyat tak lagi disapa, apalagi “dijenguk”, didengar keluh kesah mereka, aspirasi mereka, dan harapan mereka untuk kehidupan yang lebih baik.
Namun tak adil jika menganggap bahwa semua polikus di negeri ini tak bisa dijadikan teladan. Seperti kata pepatah kuno, mutiara akan selalu bersinar diantara lumpur hitam. Di tengah defisit keteladanan yang ditunjukkan para politikus di negeri ini, sosok dan kiprah Brilian Moktar, SE barangkali sebuah kekecualian.
Sebelum memutuskan sebagai calon anggota DPRD Sumut dari PDI Perjuangan untuk Daerah Pemilihan Kota Medan, ia sudah lama berkecimpung dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.
Dia selalu mengunjungi klinik-klinik pengobatan gratis yang didirikan Rotary Club Medan, dan Bodhi Cita. Memberi beasiswa untuk anak-anak tidak mampu, mengirim sejumlah pelajar berprestasi ke luar negeri untuk menempuh program studi hingga jenjang pasca sarjana (S2).
Bhakti sosial lain yang selalu dilakukan Brilian Moktar, yaitu memberi bantuan tali asih dan sembako kepada mereka yang kurang mampu.
Tak hanya itu, Brilian Moktar juga banyak mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk pengembangan olahraga di kalangan anak-anak muda.
Bola Baket, sepakbola dan anggar adalah dua cabang olahraga dimana Brilian Moktar intens terlibat. Karena aktivitasnya yang beragam, banyak pihak mengakui karya-karyanya.
Gubernur Sumut, Syamsul Arifin, SE, misalnya, memberi penghargaan kepadanya sebagai “Tokoh Olahraga Tahun 2008”. Sedangkan Penprov Perbasi Sumut mengapresiasinya sebagai “Pembina Teraktif Tahun 2008”.
Lebih dari itu, pria kelahiran 30 Maret 1966 ini juga dikenal sebagai figur yang kerap bersuara lantang di media massa.
Tidak jarang jika mendengar ada ketidakadilan, rumahnya yang terbuka sampai Pukul 03.00 WIB, malahan mirip rumah wakil rakyat.
Ketika banyak warga Medan lelap dipeluk mimpi, Brilian Moktar justru masih asyik mendiskusikan berbagai masalah yang berkembang di tengah masyarakat dengan orang-orang yang datang untuk berkonsultasi.
Semua itu dilakoni Brilian Moktar di tengah kesibukannya sebagai pebisnis dan pengurus sejumlah organisasi.
Namun berbagai kesibukan bapak dari dua orang anak ini tak mempengaruhi penampilan fisiknya yang selalu terlihat tetap bugar. Seolah tak ada pengaruh dari ritme tidurnya yang sangat minimalis. “Dari dulu, saya tidur paling banyak tiga  jam sehari,”ujar Ketua Sahabat Center Sumut itu.
Inilah salah satu modal kenapa ia akhirnya memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai caleg DPRD Sumut dari Dapem Kota Medan. Brilian Moktar memang memiliki semua syarat itu: berani, berpengetahuan luas dan pandai menjalin komunikasi.

Tiga Modal Sebagai Caleg
Di kalangan wartawan, Brilian Moktar adalah ‘primadona’. Ia ibarat sungai yang tak pernah kering. Komentar-komentarnya meluncur deras. Terkadang menabrak batu karang. Pada tahun 2004 misalnya, ia mengkritik pedas pemberlakuan Perda mengenai Tarif Parkir sebesar Rp 10.000 untuk mobil angkutan barang di sentra-sentra dagang Kota Medan.
Selain sangat mahal, Pemko Medan juga terkesan hanya mau mengisi pundi-pundi PAD (Pendapat Asli Daerah) tanpa bekerja keras.
“Tarif dipatok Rp 10.000, tapi tempat parkir tidak disediakan Pemko Medan, apakah ini adil?’ ujar Brilian Moktar waktu itu sebagaimana dikutip beberapa surat kabar.
Ketika muncul krisis listrik pada Juli – Agustus 2008, ia mengecam kebijakan pemberlakuan Perda genset. “Banyak pedagang pakai genset, karena PLN tak bisa memenuhi kebutuhan listrik, kenapa harus pedagang malah harus diberi beban pungutan lagi?” ungkapnya tak habis pikir.
Bersama beberapa aktivis lain, mereka juga mengecam perda kuburan yang dikenakan bagi orang Tionghoa yang hendak dimakamkan di tempat pemakaman di Deli Serdang. Brilian Moktar juga melontarkan kritik-kritiknya seputar pembangunan di Medan yang hanya berpusat di kawasan inti kota, dan mengabaikan kawasan pinggiran kota di Medan Utara dan Medan Barat.
Untuk mengembangkan Medan Utara, misalnya Belawan, ia sudah lama mengusulkan agar pusat pemerintahan dipindah ke wilayah baru. Dengan membuka kota baru, ia percaya bahwa Medan akan berkembang pesat.
Soal infrastrukur jalan, ia setuju dengan gagasan Walikota Bachtiar Djafar untuk membangun jalan disepanjang kiri-kanan Sungai Deli.
Titik startnya dimulai dari Jalan Guru Patimpus. Tapi sayang rintisan yang sudah dilakukan Bachtiar Djafar tidak diteruskan oleh walikota penggantinya.
Soal strategi mengentaskan kemiskinan, khususnya bagi warga yang ia golongkan miskin secara permanen, Brilian Moktar punya usul menarik. “Pemerintah mestinya mengkoordinasi organisasi-organisasi sosial yang sering melakukan aksi pembagian sembako,” ujarnya.
Ia mencatat di Medan ada tidak kurang 20 organisasi sosial . Jika aksi pembagian sembako dilakukan secara bergilir, maka warga yang miskin secara permanen, dapat menerima jatah pembagian sembako per bulan. Bukan seperti sekarang, dimana satu warga bisa menerima 4  sampai  5 kali paket sembako.
Brilian Moktar juga lantang melancarkan kritik ketika simbol dan rupang Buddha dijadikan objek bagi sebuah usaha bisnis di Jakarta.
Ia merasa ada penistaan terhadap keyakinan umat Buddha ketika simbol religius ummat Buddha dijadikan objek untuk sesuatu di luar syiar keagamaan.
Brilian tidak menginginkan hal seperti itu terjadi pada umat Islam, Kristen, Hindu dan Konghucu. Kritik-kritiknya yang tajam, kerap “menyilet” pihak yang disentil. Namun ia mengaku tidak merasa takut karena merasa apa yang dilakukan semata-mata untuk membela kebenaran.
“Saya tidak melakukan penzaliman terhadap orang lain, yang saya lakukan adalah untuk meluruskan hal-hal yang tidak benar,” ucapnya.
Bahkan, ia mengaku siap dengan segala resiko.
Menjadi anggota dewan, dalam pikiran Brilian Moktar, memang ajang pengabdian kepada rakyat, bangsa dan negara. Namun demikian, Brilian Moktar sadar bahwa apa yang telah ia lakukan selama ini, semuanya itu berpulang kepada penilaian masyarajkat.
“Hanya masyarakat Medan yang berhak menilai apa yang telah saya lakukan selama ini,” tambahnya.
Fox populi, fox dei: suara rakyat, adalah suara Tuhan!!

Leave a Reply